Dibalik “Desa Demit” yang Masuk KIPP 2019

Saya lupa kapan persisnya, pak Bayu Setyo Nugroho, Kades Dermaji, menghubungi saya dan memberitahukan bahwa inisiatif desa menggunakan website sebagai media informasi publik, akan masuk dalam Kompetisi Inovasi tingkat nasional. Rupanya, pihak Pemkab Banyumas melihat gagasan ini cukup potensial dianggap sebagai inovasi pelayanan publik.

Biasa saja

Secara pribadi, saya sih tidak terlalu gumun dengan apa yang dilakukan Desa Dermaji. Website desa-nya juga tak jauh beda dengan website desa-desa lain, isinya ya berita, pengumuman, transparansi anggaran serta galeri foto, video dan jualan produk-produk desa. Tak ada yang istimewa sebenarnya.

 

Masuk Top 99

Singkat cerita, saya baru dapat kabar lagi bulan Juni 2019, ketika ternyata hasil seleksi penjurian tahap awal, “Desa Demit” masuk dalam Top 99, dari 3.100 lebih proposal dari seluruh Indonesia. Informasi itu tertuang dalam Pengumuman Nomor B/163/PP.00.05/2019, tanggal 21 Mei 2019, tentang Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2019.

Ada empat proposal inovasi dari Kabupaten Banyumas yang masuk dalam Top 99, yakni (1) Desa Demit, dari Desa Dermaji (2) PATTAS SOSIAL MITRA KURIR LANGIT (Penanganan Cepat, Tanggap, dan Tuntas dalam Pendampingan Warga Miskin Penderita Sakit Kronis) dari Dinsospermasdes, (3) PSC 119 (Public Safety Center 119) – Satria (Sistem Aplikasi Terpadu Rujukan, Informasi Kesehatan dan Ambulans Gawat Darurat Kabupaten Banyumas) dari Dinas Kesehatan, dan SASKIA GOTAK (Smart Aplikasi Kesehatan Ibu dan Anak Go 0 Tidak Ada Kematian Ibu dan Anak) dari Puskesmas Kebasen.

Enggak Lazim

Menarik untuk dicatat, sebenarnya KIPP sendiri digelar oleh Kementerian PANRB untuk jajaran pemerintah daerah, provinsi, kab/kota dan yang dilakukan oleh ASN. Tetapi, entah karena apa, gagasan “Desa” yang notabene bukan instansi Pemda, bukan dilakukan oleh ASN juga, bisa masuk dalam Top 99.

Selama penyelenggaraan KIPP, sejak tahun 2014, konon belum pernah ada gagasan inovasi desa yang masuk dalam Top 99. 6 Tahun penyelenggaraan KIPP, baru tahun ini, ada inovasi desa yang dianggap layak berkompetisi dengan inovasi pemerintah daerah (Kab/Kota dan Provinsi).

 

Catatan

Saya kira masuknya Dermaji dalam Top 99 KIPP 2019 ini bukan karena soal “Website”-nya atau karena “teknologi”-nya. Tetapi ada hal lain diluar itu yang membuat juri menilai inisiatif ini laik untuk didengarkan penjabarannya pada tahap presentasi.

(1) Pionir

Biasanya, yang masuk dalam kompetisi inovasi semacam ini adalah program-program yang unik. Tapi tak jarang pemerintah daerah juga memasukkan program-program yang “lumrah” dilakukan oleh pemerintah sebagai inovasi. Sedangkan Dermaji, bukan hanya sekadar ikut trend teknologi, ikut-ikutan bikin website, Dermaji bersama desa-desa lain dalam gerakan Desa Membangun juga berhasil menjadi pionir, melahirkan kebijakan nasional berupa domain internet khusus desa “desa.id”.

Jika ditanya bagaimana replikasi inovasi Dermaji? lihat saja data statistik PANDI. Sejak diluncurkan 1 Mei 2013, kini desa.id sudah digunakan oleh >8.300 desa di seluruh Indonesia. domain desa.id sendiri sudah diakui oleh Pemerintah Pusat sebagai domain instansi, melalui Permenkominfo No. 5 Tahun 2015.

(2) Semangat Kolaborasi

Saya juga yakin dewan juri menilai ada semangat besar dibalik gagasan “sekadar website” desa ini. Yakni semangat untuk terbuka, semangat untuk transparan dan semangat kolaborasi. Orang desa tentu tak harus lama-lama belajar membuat website yang bagus dan cantik, pun tak harus mengeluarkan anggaran banyak untuk membuat video desa yang ciamik. Mereka hanya perlu melibatkan anak-anak muda kreatif, baik yang ada di desa, pun yang di kota. Semangat kolaborasi ini yang berhasil ditebarkan oleh Pak Bayu, melalui dermaji.desa.id.

(3) Think Globally, Act Locally

Desa Dermaji, berhasil menunjukkan kepada kita, bahwa untuk menjadi desa yang maju dan mandiri, tidak perlu membangun bangunan tinggi, pasar modern yang megah atau komplek wisata raksasa seperti yang ada di kota-kota. Dermaji menunjukkan, “mendunia” bisa dilakukan bahkan “hanya” membuat sebuah museum desa, menyelenggarakan festival tradisional dan melestarikan kebudayaan asli masyarakat desa. Mereka tetap berada di desa, hidup sebagai orang desa.

 

Kembali ke KIPP

Kemarin, saya bisa bernafas lega, ketika pak Bayu mengirimkan foto-foto suasana presentasi di KemenPANRB. Dengan mengenakan pakaian tradisional khas Banyumas, Pak Bayu dan Bupati Banyumas, alhamdulillah lancar melakukan presentasi. Salindia yang saya siapkan juga lancar dibuka dan digunakan. Bahkan saya melihat video suasana pasca presentasi, sangat hangat dan akrab.

Selamat untuk Dermaji, jangan lelah berinovasi dan menginspirasi. Karena saya percaya, desa adalah “indonesia” yang sesungguhnya.