Ngaji: Meneladani Empat Sifat Rasul Dengan Sudut Pandang Profesionalitas

Enggak sengaja, saya ikut ngaji dalam acara buka bersama yang diselenggarakan oleh sebuah Bank Syariah. Acara dalam rangka buka puasa bersama ini mengundang Gus Ajir Ubaidillah, seorang ustaz muda pengasuh Ponpes Nurul Huda, Langgongsari, Cilongok.

Sekitar pukul 16.30 saya dihubungu Gus Ajir untuk bertemu beliau di lokasi acara, di Java Heritage Hotel, Purwokerto. Saya kira beliau hanya ingin bertemu dan ngobrol sebentar, biasanya demikian jika ada kebutuhan desain grafis atau materi promo digital. Tapi ternyata kali ini beda.

Saya “dijebak” ikut acara buka puasa bersama. Ya sudah, saya syukuri saja, saya ikut acara tausiyah jelang buka puasa, kemudian ikut salat Magrib berjamaah kemudian makan bersama. Pura-pura sok kenal sok akrab aja sama peserta, yang ternyata para manajer cabang di Bank Syariah tersebut.

Alhamdulillah, gara-gara terjebak ikut bukber itu saya dapat ilmu baru, yakni meneladani empat sifat rosul dalam konteks profesionalitas.

Sidiq, Kapabel

Biasanya, kita memahami sifat “sidiq” pada rasulullah diartikan sebagai memiliki sifat yang benar, jujur. Dalam perspektif profesionalitas, sifat ini relevan dengan ketepatan seseorang dalam posisinya, apakah ia kapabel, memiliki kapabilitas yang cocok dengan posisi pekerjaannya. Dalam istilah lain,¬†the right man on the right place.

Amanah, Akuntabel

Kedua, amanah. Sifat ini sering diartikan sebagai “terpercaya”. Dalam dunia profesional, akuntabilitas seseorang sepertinya dapat menjadi tolok ukur yang relevan untuk membuktikan apakah ia dapat dipercaya atau tidak. Akuntabel di sini bermakna, segala sesuatu yang ia kerjakan dapat terukur, sehingga melahirkan istilah “kinerja” yang baik.

Tabligh, Komunikatif

Ketiga, dan ini yang menjadi salah satu kunci utama dalam dunia profesional. Tabligh sering diartikan sebagai sifat rasul yang dapat “menyampaikan” informasi atau berita dengan baik. Istilah lainnya saat ini adalah “komunikatif”. Kemampuan seseorang dalam menerima dan menyampaikan pesan, sesuai dengan audiens, proporsionalitas serta konteks. Tidak kurang dan tidak pula berlebihan alias¬†lebay.

Fathonah, Inovatif

Keempat, yang juga tak kalah penting dan justru sering terlupakan adalah fathonah. Sifat ini sering diartikan sebagai sifat “cerdas”, jeli melihat peluang, memetakan masalah dan menemukan solusi. Sehingga dalam dunia profesi, sifat ini relevan dengan istilah “inovatif”. Kemampuan berinovasi seseorang menentukan seberapa lama ia bertahan dan seberapa cepat ia berkembang.

Jika semua karyawan maupun para pimpinan perusahaan memiliki empat sifat ini dalam kehidupan profesional mereka, maka insya Allah semua kegiatan usaha maupun pekerjaan akan baik, bahkan meraih hasil yang maksimal.

Demikian, semoga siapa saja yang membaca tulisan ini juga mendapatkan manfaat dari apa yang Gus Ajir sampaikan. Aamiin.